Kontroversi Lemak Jenuh dalam Minyak Kelapa

Events

14/11/2017

Share :

Argumen utama yang menentang minyak kelapa adalah kandungan lemak jenuhnya yang tinggi.

Pada bulan Juni 2015, tinjauan Cochrane menemukan bahwa, dalam beberapa hal, lemak jenuh mungkin tidak terlalu berbahaya dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Namun penelitian ini tidak menunjukkan bahwa lemak jenuh itu menyehatkan, dan penulis mendesak masyarakat untuk terus mengurangi asupan lemak jenuhnya.

Pada bulan Juni 2017, American Heart Association (AHA) mengeluarkan saran baru untuk tidak menggunakan lemak jenuh, termasuk minyak kelapa, setelah melihat temuan dari lebih dari 100 penelitian.

Interpretasi penelitian yang salah? Pada tahun 2008, sebuah penelitian membuat orang berpikir bahwa minyak kelapa mungkin menyehatkan. Dalam penyelidikan ini, 31 orang mengonsumsi minyak MCT atau minyak zaitun selama 16 minggu program penurunan berat badan.

Tim menemukan bahwa tubuh memproses minyak MCT, seperti minyak kelapa, secara berbeda dari minyak lainnya. Mereka menyimpulkan bahwa MCT dapat memberikan dampak yang sama terhadap faktor risiko CVD seperti minyak zaitun.

Beberapa orang mengartikan bahwa jika MCT dapat memberikan efek positif pada HDL dan kadar kolesterol total, maka minyak kelapa pasti menyehatkan.

Namun penelitian aslinya tidak menggunakan minyak kelapa, melainkan minyak khusus yang 100% MCT. Kandungan MCT minyak kelapa sekitar 14%. Mentega mengandung sekitar 9,2% MCT.

Seseorang harus makan 150 g, atau 10 sendok makan, minyak kelapa setiap hari untuk mendapatkan manfaatnya. Mengonsumsi minyak sebanyak ini tidak sehat.

Pedoman Diet merekomendasikan untuk membatasi asupan lemak jenuh hingga 10% atau kurang dari total kalori. Bagi mereka yang memantau kadar kolesterolnya, AHA merekomendasikan maksimal 5-6%.

Kebanyakan penelitian yang menunjukkan manfaat kesehatan positif menggunakan minyak MCT, bukan minyak kelapa. Penelitian yang mendukung minyak kelapa sering kali merupakan penelitian jangka pendek dan berskala kecil yang melibatkan hewan dibandingkan manusia. Hasilnya belum cukup signifikan untuk menyarankan masyarakat beralih ke minyak kelapa.

Penelitian yang mendukung peralihan ke asam lemak tak jenuh telah memberikan hasil yang lebih dapat diandalkan.

Berita Terkait

butuh bahan baku kelapa terbaik?